Membawa Gadget atau HP Berisikan Al-Qur'an ke Dalam Toilet? Apa Benar Boleh?

Buzzer TweetSering tak sadar, apakah boleh membawa ponsel atau smartphone ke dalam kamar mandi? terlebih lagi banyak yang gemar BAB sambil pegang HP.

Pastinya setiap hari kita sering sekali bolak-balik kamar mandi. Entah itu mandi, buang air besar atau kecil, mencuci tangan sampai aktivitas mencuci pakaian.

Selain harus mengetahui adab ketika hendak pergi ke kamar mandi, seperti misalnya saja membaca doa sebelum pergi ke kamar mandi yang berbunyi,

“Allahumma Innii a’uudzubika minal khubutsi wal khabaaits”,
artinya:
“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki dan syetan perempuan”. (HR. Bukhari dan Muslim)


Lalu, mendauhulukan kaki kiri ketika memasukinya, sampai jangan berbicara ketika di dalamnya.

Lantas muncul sebuah pertanyaan, bolehkah membawa gadget atau ponsel ke kamar mandi, apalagi yang berisikan Al-Qur'an?

Sudah jelas di era modern ini, hampir bisa dibilang kalau semua dapat dilakukan di genggaman tangan saja. Ya, dengan smartphone yang mendukung beribu fitur. Bahkan ibadah membaca al-Quran pun tak harus membuka-tutup lagi lembaran mushaf.

Cukup di HP.

Yang kerap menjadi masalah, bagaimana kalau kita hendak ke WC atau kamar mandi (tempat kotor) sambil membawa HP atau smartphone yang berisi Al-Qur’an?

Mengenai ini, Syekh Muhammad Sholeh Al-Munajjid menjawabnya seperti dilansir dari laman Islamqa.

Tidak diharamkan membawa masuk hp semacam ini ke kamar mandi karena ia tidak sama dengan hukum mushaf. Meskipun di dalamnya telah didownload program Al-Qur’an. Karena ia adalah suara tersembunyi bukan tulisan yang tampak.

Selain itu, ada pula ulama yang menganalogikan HP berisi Al-Qur’an ini dengan penghafal Alquran. Seorang penghafal Al-Qur’an, di dalam memorinya tersimpan firman-firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun demikian, tidak ada larangan baginya untuk masuk toilet atau kamar mandi. Selama dia tidak membaca Al-Qur’an di tempat-tempat yang kurang terhormat ini.

Sekarang sudah tahu ya, jika membawa ponsel yang berisi Al-Qur'an ke dalam kamar mandi itu tidak mengapa.

Namun ada baiknya untuk tak membawa benda tersebut ke kamar mandi lagi karena bisa berbahaya seperti misalnya ponsel yang jatuh ke bak mandi, atau bisa saja terkena aliran listrik dari ponsel tersebut.

Jangan sampai ya.

Mari membiasakan diri kita dan anak-anak dengan adab-adab yang baik ketika pergi ke kamar mandi dan tentu saja sesuai dengan sunah Rasulullah SAw. Agar semua aktivitas kita bernilai ibadah di hadapan Allah swt. Aamiin…
azr.


sumber : tribunsiana.com

Masih Ingat Sumanto? Pria Yang Bikin Geger Indonesia 2003 Lalu, Aktivitasnya Sekarang Bikin Kagum

Buzzer TweetMasih ingat Sumanto manusia kanibal yang berasal dari Purbalingga, Jawa tengah? Ternyata dia sudah banyak berubah dan layakna manusia pada umumnya, dia juga punya keinginan untuk menikah, tapi malah begini nasibnya.

Hukuman dibalik jeruji besi bisa saja mengubah perilaku seorang pelaku kejahatan. Namun sayang, belum tentu juga merubah stigma masyarakat terhadapnya.

Hal itu seperti itulah yang dialami seorang mantan narapidana bernama Sumanto.

Masih ingat dengannya?

Namanya terdengar sampai ke luar negeri, lho. Gara-gara kasus dia makan daging manusia, Sumanto dijuluki raja kanibal Indonesia.


Sebelum ditangkap, pria ini sudah menyantap 3 orang. Korban pertama yakni rekannya saat dia bekerja di pabrik gula.

Kedua, penjahat yang mencoba merampoknya, dan ketiga, mayat yang baru 16 jam dikubur. Dari korban ketiga ini akhirnya Sumanto dapat ditangkap.

Dia mengaku memakan daging manusia untuk memperoleh kesaktian. Merinding dengar kisahnya. Apa kabar ya Sumanto sekarang?

Ternyata paska keluar dari tahanan pada 2006 lalu karena kasus pembongkaran kuburan dan pengambilan mayat itu, ia tak sepenuhnya menghirup udara bebas.

Warga desa tempat tinggalnya, desa Plumutan, Kemangkon, Purbalingga menolak kehadirannya kembali di desa.

Beruntung, seorang pengasuh panti rehabilitasi mental Annur, Bungkanel Karanganyar Purbalingga Supono bersedia menampungnya.

Belasan tahun Sumanto tinggal di panti, apakah Sumanto mengalami perubahan?

Dilansir dari laman Tribun, fisik Sumanto tak banyak mengalami perubaban sejak 11 tahun lalu.

Tubuhya masih gempal.

Tak terlihat banyak uban pada rambut kepalanya.

Kumis panjangnya tetap khas, hampir menyatu dengan jenggot. 

Hanya kulit pipinya terlihat agak kempot.

Supono mengungkapkan, dari segi kepribadian, Sumanto telah mengalami banyak perubahan semenjak tinggal di panti.

Sumanto menjadi pribadi lebih baik.

Ia beraktivitas layaknya masyarakat normal di dalam panti, mulai mencabuti rumput, bertani, memberi makan burung, dan membantu pekerjaan Supono.

"Aktivitas saya bantu-bantu pak Haji (Supono) cabut-cabut rumput, bertani, ikut pengajian, pokoknya ikut pak haji,"kata Sumanto.

Selain beraktivitas sosial, Sumanto juga rajin mengikuti pengajian yang diselenggarakan panti.

Menurut Supono, Sumanto mampu melafalkan ayat Al Quran.

Pada beberapa kesempatan, Sumanto juga dipercaya mengumandangkan azan.

Berbagai kemajuan yang dialami Sumanto ternyata tak membuat citranya membaik di masyarakat.

Stigma Sumanto sebagai sosok mengerikan tak lantas sirna dari benak masyarakat.

Ia tetap ditolak oleh warga saat beberapa kali hendak dipulangkan ke rumah orang tuanya.

Apa keinginan Sumanto?

Sumanto tetaplah manusia berperasaan yang punya kerinduan terhadap orang tuanya.

Ia ingin kembali pulang ke tanah kelahiran dan menjalani aktivitas layaknya manusia normal.

Sayang, lima kali ia coba dikembalikan ke keluarganya oleh pengasuh panti, Sumanto tetap ditolak warga.

Bayangan mengerikan terhadap perbuatan keji Sumanto di masa silam masih terpatri di benak sebagian masyarakat.

Selain kembali ke rumah, Sumanto juga sempat menyampaikan keinginannya untuk menikah.

Ia mendambakan seorang perempuan yang bisa menerima apa adanya.

Sebagai sesama lelaki, Supono mengerti kemauan Sumanto yang menginginkan pendamping hidup.

Namun, melihat pandangan miring masyarakat terhadap Sumanto selama ini, ia pun pesimis dapat mewujudkan keinginan Sumanto.

Supono sempat berusaha mencarikan jodoh untuk Sumanto. Ia pernah mengumumkan keinginan Sumanto itu ke publik melalui media.

Supono bahkan siap menanggung biaya resepsi pernikahan jika ada perempuan yang bersedia dipinang Sumanto.

"Sudah saya umumkan. Biaya nikah saya tanggung, mau nikah di hotel mana silakan saya tanggung. Tapi tidak ada yang mau sampai sekarang,"katanya

Sumanto sepertinya harus mengubur mimpi-mimpi indahnya itu.

Mimpi yang ia bangun selama belasan tahun dari dalam ruangan berukuran sekitar 3x5 meter di dalam panti.

Di ruangan itu, Sumanto paling banyak menghabiskan waktu.

Seringkali ia menyanyikan tembang Jawa dengan suara lantang.

Nyanyiannya menggema syahdu.

Memecah keheningan panti berisi puluhan penderita gangguan mental yang sama terdiam.

"Sudah saya umumkan. Biaya nikah saya tanggung, mau nikah di hotel mana silakan saya tanggung. Tapi tidak ada yang mau sampai sekarang,"katanya

Sumanto sepertinya harus mengubur mimpi-mimpi indahnya itu.

Mimpi yang ia bangun selama belasan tahun dari dalam ruangan berukuran sekitar 3x5 meter di dalam panti.

Di ruangan itu, Sumanto paling banyak menghabiskan waktu.

Seringkali ia menyanyikan tembang Jawa dengan suara lantang.

Nyanyiannya menggema syahdu.

Memecah keheningan panti berisi puluhan penderita gangguan mental yang sama terdiam.
azr.


sumber : teladani.com

Masih Usia 14 Tahun, Alasan Awal & Awalia Menikah Benar-benar BIKIN MIRIS

Buzzer TweetSetelah warga Indonesia dihebohkan dengan pernikahan seorang wanita tua dengan remaja muda berusia 16 tahun, kini terjadi lagi pernikahan yang bikin orang tua miris melihatnya.

Dikutip dari tribunnews, pada kamis (13/7) lalu, pernikahan dini baru saja terhadi di Kelurahan Borong Rappoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulumba, Sulawesi Selatan.

Perniakah ini dilakukan oleh sepasang kekasih bernama Awal Rahman (14) dan Awalia Mar'a (14). Awal merupakan warga asal Asayya, Borong Rappoa, Kecamatan Kindang atau sekitar 35 kilometer dari ibukota Bulukumba.

Sementara Awalia adalah warga Patteneteang, Banyorang Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.


Bukan lewat perjodohan, tapi alasan mereka menikah benar-benar bikin orang tua miris. Bagaimana tidak? Diusianya yang masih sangat belia, mereka mengaku jika kisah cinta mereka sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu.

"Sudah dua tahun pacaran memang dan suka sama suka jadi dikasih menikah, kedua

Bukan lewat perjodohan, tapi alasan mereka menikah benar-benar bikin orang tua miris. Bagaimana tidak? Diusianya yang masih sangat belia, mereka mengaku jika kisah cinta mereka sudah berlangsung sejak dua tahun yang lalu.

"Sudah dua tahun pacaran memang dan suka sama suka jadi dikasih menikah, keduanya juga sudah direstui," kata salah seorang teman pasangan penganting baru tersebut, Kartini kepada TribunBulukumba.com, Jumat (14/7/2017).

Pernikahan ini menyita perhatian publik Bulukumba, sebab idealnya pernikahan baru bisa dilangsungkan setelah berumur 16 tahun atau setelah mendapat. Bagaimana menurutmu?
azr.


sumber : tribunsiana.com

Bolehkah Menolak Ajakan Suami di Ranjang Karena Tidak Dinafkahi? Ini Penjelasan Haditsnya

Buzzer TweetSuami maupun istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sebanding dengan posisinya. Karena itu, bentuk hak dan tanggung jawab masing-masing berbeda. Kaidah baku ini Allah nyatakan dengan tegas dalam al-Quran,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Para istri memiliki hak yang sepadan dengan kewajibannya, sesuai ukuran yang wajar.” (QS. al-Baqarah: 228).

Diantara tanggung jawab terbesar suami adalah memberi nafkah istri. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,

فاتَّقوا الله في النِّساء؛ فإنَّكم أخذتموهنَّ بأمانة الله، واستحْلَلْتم فروجَهنَّ بكلمة الله، ولهُنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف
“Bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi istri. Kalian menjadikannya sebagai istri dengan amanah Allah, kalian dihalalkan hubungan dengan kalimat Allah. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian, memberi nafkah makanan dan pakaian sesuai ukuran yang sewajarnya.” (HR. Muslim No.3009).


Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras bagi suami yang tidak memperhatikan nafkah istrinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرْء إثمًا أن يضيِّع مَن يقوت
“Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Ibnu Qudamah menyebutkan,

اتَّفق أهلُ العلم على وجوب نفقات الزَّوجات على أزْواجِهن، إذا كانوا بالغين؛ إلا النَّاشزَ منهنَّ، ذكره ابن المنذر وغيرُه
“Ulama sepakat suami wajib memberi nafkah istri, jika suami telah berusia baligh. Kecuali untuk istri yang nusyuz (membangkang). Demikian yang disebutkan Ibnul Mundzir dan yang lainnya.” (al-Mughni, 9/230).

Tanggung Jawab Istri
Sebaliknya, istri diperintahkan untuk mentaati suaminya. Selama suami tidak memerintahkan untuk maksiat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dia dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ahmad No.1683, Ibnu Hibban No.4163 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج
“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ al-Fatawa, 32/260)

Ketika Kewajiban Tidak Ditunaikan
Ketika salah satu tidak memenuhi kewajiban, maka yang terjadi adalah kedzaliman. Suami yang tidak memenuhi kewajibannya, dia mendzalimi istrinya dan sebaliknya.

Hanya saja, dalam keluarga, Islam tidak mengajarkan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga, ketika suami tidak melaksanakan kewajibannya untuk istrinya, Islam tidak mengajarkan agar tindakan itu dibalas dengan meninggalkan kewajibannya. Karena yang terjadi, justru timbul masalah baru.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i mengatakan,

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.
“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, bukan berarti dia harus membalasnya dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada pasangannya. Karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban disebabkan keteledorannya, pada hari kiamat.”

Pelanggaran yang dilakukan oleh suami, tidak boleh dibalas dengan pelanggaran dari istri. Sehingga dua-duanya melanggar.

Karena itu, solusi yang diberikan pelanggaran balas pelanggaran, tapi diselesaikan dengan cara yang baik, antara bersabar atau pernikahan dihentikan.

Lalu apa yang harus dilakukan wanita? Syaikh ar-Rifa’i melanjutkan,

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك
“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح
“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا
“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Allahu a’lam.

<

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك
“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح
“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا
“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Allahu a’lam.
azr.


sumber : tribunsiana.com

Rejeki Mengalir Deras Tanpa Henti Dengan Ayat Ini. Kalau Gak Percaya Buktikan Sendiri

Buzzer TweetDisebutkan, ada 2 ayat dalam Al-Quran yang jika dibaca setiap amalam akan memberikan kecukupan bagi siapa saja yang membacanya. Rezeki lancar hanya membaca 2 ayat saja? yap, seperti Sabda Rasulullah SAW.

مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Sesiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah pada malam hari, niscaya ia tercukupi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh DR Mustofa Said Al Khin, Syaikh DR Mustofa Al Bugho, Syaikh Muhyidin Mistu, Syaikh Ali Asy Syirbaji dan Syaikh Muhammad Amin Luthfi dalam kitab Nuzhatul Muttaqin syarh Riyadhush Shalihin menerangkan bahwa salah satu makna tercukupi dalam hadits ini adalah tercukupi keperluan dunia dan akhiratnya serta terhindarkan dari semua keburukan.


Ibnu Katsir juga mencantumkan hadits tersebut ketika menjelaskan keutamaan dua ayat terakhir surat Al Baqarah ini dalam tafsirnya. Dua ayat terakhir dalam surat Al Baqarah tersebut tidak lain adalah firman-Nya:

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْم

Syaikh DR Mustofa Said Al Khin, Syaikh DR Mustofa Al Bugho, Syaikh Muhyidin Mistu, Syaikh Ali Asy Syirbaji dan Syaikh Muhammad Amin Luthfi dalam kitab Nuzhatul Muttaqin syarh Riyadhush Shalihin menerangkan bahwa salah satu makna tercukupi dalam hadits ini adalah tercukupi keperluan dunia dan akhiratnya serta terhindarkan dari semua keburukan.

Ibnu Katsir juga mencantumkan hadits tersebut ketika menjelaskan keutamaan dua ayat terakhir surat Al Baqarah ini dalam tafsirnya. Dua ayat terakhir dalam surat Al Baqarah tersebut tidak lain adalah firman-Nya:

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an) dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan seseorang pun di antara rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah: 285-286)

Siap untuk mengamalkan kedua ayat diatas? Dengan pengamalaan secara rutin, Insya Allah keajaiban akan terjadi.
azr.


sumber : tribunsiana.com